• Home
  • Sumatera
    • Aceh
    • Sumatera Utara
    • Sumatera Barat
    • Riau dan Kepri
    • Sumatera Selatan
    • Jambi
    • Bengkulu
    • Bangka Belitung
    • Lampung
  • Jawa
    • DKI Jakarta
    • Banten
    • Jawa Barat
    • Yogyakarta
    • Jawa Tengah
    • Jawa Timur
  • Kalimantan
    • Kalimantan Barat
    • Kalimantan Tengah
    • Kalimantan Utara
    • Kalimantan Timur
  • Sulawesi
    • Sulawesi Selatan
    • Sulawesi Tengah
    • Sulawesi Barat
  • Bali NTB NTT
    • Bali
    • Lombok
    • Sumba
    • Flores
  • Maluku dan Papua
    • Maluku
    • Papua
instagram Email

dodonulis

blog catatan perjalanan

naik-pesawat-untuk-ibu-hamil

Desember 2025. Saya dan Em sepakat untuk pulang ke kampung sebagai persiapan untuk lahiran di sana. Sebagai seorang suami siaga, perasaan khawatir itu kian membuncah mendekati hari H, mengingat perjalanan pulang ke kampung harus ditempuh dalam waktu belasan jam. Kami harus menggunakan dua moda transportasi yaitu pesawat dan kereta api. Penting sekali untuk memastikan semua persiapan berjalan aman terutama dari segi administrasi, karena transportasi publik khususnya kereta api jarak jauh dan pesawat sangat ketat peraturannya bagi ibu hamil. 

Kampung kami terletak di Pagaralam, Sumatera Selatan. Sementara saya dan Em saat ini berdomisili kerja di Kota Pangkal Pinang, Pulau Bangka. Untuk sampai ke sana, perjalanan diawali dengan pesawat Pangkal Pinang ke Palembang dalam waktu tempuh 30 menit. Lalu perjalanan dilanjutkan dengan naik kereta api jarak jauh dari Palembang ke Kota Lahat selama lima jam. Kemudian yang terakhir, dilanjutkan dengan mobil selama 2,5 jam. 

Mengapa tidak naik travel atau mobil pribadi saja dari Palembang ke Pagaralam? alasannya karena kenyamanan. Saya dan Em merasa naik kereta api jauh lebih safety, goncangan tidak terlalu kasar dan tidak harus melewati jalanan yang banyak lobang di daerah pertambangan di Sumatera Selatan, belum lagi macet truk-truk batubara, ampun deh. 

Saya hanya ingin share cerita, mudah-mudahan bermanfaat bagi para calon ibu yang sedang hamil dan ingin melakukan perjalanan ketika sudah masuk di trimester akhir. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah cek terlebih dahulu syarat administrasi yang ditentukan oleh maskapai. Cek dengan teliti karena tiap maskapai mempunyai ketentuan yang berbeda.   

Karena saya menggunakan pesawat Supera Air Jet (SAJ), saya akan mengulas ketentuan dari maskapai tersebut. Di laman resmi mereka menyatakan beberapa syarat yaitu :

  1. Usia kehamilan sampai dengan 35 minggu wajib membawa Surat Dokter yang menyatakan bahwa penumpang layak untuk melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang berlaku 7 hari dari waktu pembuatan sampai dengan waktu keberangkatan dan mengisi Surat Pernyataan FOI (Form Off Imdemnity) yang disediakan oleh SAJ
  2. Untuk kehamilan khusus (komplikasi atau gangguan) tidak diperkenankan terbang
  3. Kehamilan kembar diperbolehkan terbang hanya sampai usia kehamilan kurang dari 31 minggu.
  4. Usia kehamilan >35 minggu tidak diperkenankan melakukan penerbangan

Membaca syarat tersebut, sebelum membeli tiket berangkat, Saya dan Em pergi terlebih dahulu ke Dokter Obgyn terdekat, yang sudah sering memeriksa Em dan Bayi di kandungannya. Kami jelaskan juga ke dokter terkait rencana keberangkatan. 

Syukurlah kondisi Ibu dan anak aman dan sehat. Untuk memenuhi syarat terbang, dibuatlah surat layak terbang dengan tanggal lima hari sebelum keberangkatan. Tidak lupa juga kami meminta satu surat keterangan dari dokter untuk memenuhi persyaratan administrasi perjalanan kereta api jarak jauh.

Untuk syarat naik kereta antar kota atau jarak jauh, KAI memperbolehkan Ibu Hamil di usia kehamilan 14 sampai dengan 28 minggu. Loh kalau sudah 30 minggu ke atas bagaimana dong? karena biasanya cuti Ibu Hamil itu sekitar satu bulan sebelum hari perkiraan lahir (HPL). Tetap boleh kok, dengan syarat adanya surat keterangan sehat dari dokter dan wajib didampingi 1 (satu) orang pendamping penumpang dewasa untuk mengantisipasi kondisi kedaruratan. 

"Pak, Ibunya didampingi kan sama Bapak ketika berangkat? soalnya gak boleh loh berangkat sendirian" Kata Dokter Obgyn yang memeriksa Em. "Aman dok, saya ikut kok" Jawab saya lugas.

 Setelah surat layak terbang dan surat keterangan dari dokter sudah dipegang, kami baru percaya diri untuk membeli tiket pesawat dan kereta api, sat-set, dalam hitungan 10 menit semua urusan tiket beres melalui aplikasi tiket.com.

Hati-hati di Perjalanan Untuk Ibu Hamil

pemandangan-kota-palembang-dari-pesawat

Hari keberangkatan tiba, Saya dan Em tiba di Bandara Depati Amir dua jam sebelum waktu boarding. Alasannya untuk antisipasi kalau antrian di konter check in ramai. Saya menyerahkan surat layak terbang ke staf maskapai,lalu saya diminta untuk menandatangani Surat Pernyataan FOI (Form Off Imdemnity) yang telah disediakan maskapai. 

"Pak, suratnya disimpan dan diserahkan ke petugas ketika hendak boarding ya" Ujar staf konter. Proses check in berjalan aman. Untuk posisi tempat duduk, maskapai memberikan prioritas tempat duduk di area depan.

Perjalanan di Bulan Desember itu membuat saya khawatir karena cuacanya sangat tidak menentu. Pulau Bangka bisa seharian hujan, bisa seharian mendung, bisa seharian panas terik. Ketika pesawat take off, cuaca terlihat mendung dari darat. Syukurlah setelah beberapa menit terbang, cuaca di atas lebih clear dan cerah sampai mendarat sempurna di Bandara Palembang pukul satu siang, setelah 30 menit di udara.

tulisan-welcome-to-palembang

Perjalanan belum selesai, Kereta api dari Palembang ke Lahat terjadwal pukul delapan malam. Artinya kami mempunyai spare waktu selama tujuh jam untuk istirahat sebentar. Ini salah satu pertimbangan memilih menggunakan kereta, setidaknya Em tidak terlalu lelah, punya waktu yang cukup untuk rehat di rumah keluarga di Palembang.

Pukul 18.30 WIB, kami sudah tiba di Stasiun Kertapati. Setelah proses check in dilakukan, petugas mengarahkan Saya dan Em ke ruang pemeriksaan kesehatan di area dalam stasiun. Di sana sudah ada petugas medis yang berjaga untuk mengecek tensi dan memeriksa surat keterangan dari dokter. Setelah semua aman, kami dipersilakan masuk ke dalam kereta.

Tepat pukul delapan malam, bunyi klakson mendenging keras, kereta api Sindang Marga jurusan Palembang - Lubuk Linggau berangkat (kami turun di Stasiun Lahat, dua stasiun sebelum Lubuklinggau). Saya sengaja memesan empat kursi agar Em bisa selonjor di bangku penumpang. Terkesan egois? iya saya akui, tetapi kami berangkat bukan pada saat high season. Ketika saya cek banyak kursi yang lowong pada tiap-tiap gerbong.

Meski goncangan di kereta tidak sekuat ketika naik mobil, tetap saja masih terasa. Sebelum berangkat Em juga meminum vitamin dari dokter. Selama perjalanan, saya was-was setiap melihat Em bergerak memperbaiki posisi duduk. Oh ya jangan lupa membawa kain selimut dan bantal yang praktis ya, penting banget apalagi jika berangkatnya malam hari, lalu makanan ringan dan air mineral yang cukup.  

Lantas bagaimana dengan barang bawaaan? bukankah banyak yang perlu dibawa ke kampung, terutama perlengkapan bayi. Barang-barang keperluan untuk bayi newborn sudah Em kirim ke kampung. Penting sekali untuk mengantisipasi supaya ketika berangkat kita tidak perlu membawa barang yang banyak, kalau bisa cukup satu koper besar saja dan satu tas backpack. 

Pukul 12 malam. Kereta Api tiba di Stasiun Lahat. Kami tidak langsung berangkat ke Pagaralam malam itu juga, melainkan menginap di hotel dekat stasiun, kurang lebih 200 meter jaraknya. Beruntung di Lahat sudah ada grab car, jadi tidak perlu merepotkan keluarga untuk antar jemput ke hotel. Malam itu istirahat dulu di Lahat, baru keesokan harinya ke Pagaralam dengan mobil. 

Bagaimana kondisi Em saat itu? saya lihat Em sangat bersemangat, meskipun saya melihat wajahnya yang lelah. Pada hari itu juga, ketika tiba di kampung halaman, Saya dan Em pergi ke Dokter Spesialis Obgyn untuk memastikan kondisi kandungan baik-baik saja.

Syukurlah perjalanan berjam-jam itu berjalan aman dan lancar. Untuk sobat pembaca, Ibu hamil maupun suami siaga yang hendak berperjalanan, hati-hati di perjalanan, semoga Tuhan melindungi dan diperlancar urusannya. Oh ya foto-foto yang saya lampirkan bukan ketika hari perjalanan, waktu itu tidak kepikiran sama sekali untuk dokumentasi, saya sangat fokus mendampingi Em hari itu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
logo-dodonulis
10 Januari, anak pertama kami lahir ke dunia. Putri cantik yang memancarkan cahaya harapan bagi keluarga kami. Bagaimana mendefinisikan perasaan  saat itu? sungguh jari saya kaku untuk menuliskannya di sini, terlalu campur aduk. Seminggu pertama, bangsal dan lorong rumah sakit membuat saya belajar tentang kehidupan. Bagi saya, pelajaran ini tidak bisa dipelajari dari buku-buku yang telah dibaca dan bangku sekolah manapun. 

Putri kami lahir selamat dan sehat. Dirinya lahir bukan pada tanggal yang sudah dijadwalkan oleh dokter, bukan juga di rumah sakit kota yang sudah kami pilih. Kini Em sudah jauh lebih pulih, putri kami juga sudah memasuki usia dua bulan dengan tingkah lucu dan menggemaskan. Mereka berdua adalah perempuan kuat, Ibu dan anak yang saling menguatkan satu sama lain. Meski ketika waktu kelahiran saya tidak berada di sana, terpisah pulau.  

Setelah tiba di kampung satu hari setelah kelahiran, saya memutuskan untuk jeda dari aktivitas rutin, termasuk menulis. Jeda untuk menghela nafas panjang, meramu pikiran agar tetap tenang, dan fokus untuk merawat anugerah Tuhan yang dititipkan kepada saya dan Em. Kini, saya memiliki dua perempuan kuat yang sangat berarti lebih dari apapun. Disposisi dari tuhan yang perlu dijaga dengan baik. 

Satu bulan lamanya, setelah jeda dalam waktu yang lama, saya ingin memulai kembali menulis, membangun konsistensi yang tertinggal jauh di belakang. Memulai kembali adalah hal yang sulit, apa alasan yang membuat saya kembali bersemangat? Saya ingin bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Em. Dia adalah orang yang paling percaya kalau saya tidak mudah menyerah. 

Saya teringat kejadian pada suatu malam di tahun 2025, setelah mengetahui naskah yang saya tulis tidak diterima oleh penerbit, saya memberitahu Em bahwa saya ingin berhenti menulis. Reaksi Em saat itu sangat terpukul, air matanya menetes, dan memeluk dengan erat. Dirinya menolak dengan tegas dan menyemangati kembali untuk jangan pernah berhenti. 

Saya terpaku, tidak menyangka respon Em seperti itu. Saat itu saya sadar, bahwa pernikahan juga membuat ikatan batin yang begitu dalam, impian dan cita-cita kini tidak hanya milik saya saja, melainkan milik bersama. 

Em tau betul bahwa saya menyukai aktivitas ini, lantas mengapa saya harus berhenti melakukan apa yang saya sukai. Dengan mengatakan niat untuk berhenti menulis, itu sama saja mematahkan hati Em yang telah mendukung penuh selama ini.

Pada tulisan ini saya ingin memberitahu suatu hal, bahwa logo Dodonulis adalah garapan yang teramat spesial yang dikreasikan dengan niat hati yang tulus dari Em. Ada jiwa dan perasaan Em di sana.  Saya masih ingat bagaimana Em sangat serius memikirkan ide dan konsep huruf yang saling terhubung membentuk kelopak bunga, menandakan harapan yang mekar.  

Pada Agustus 2025, saya mendaftarkan logo dan nama dodonulis mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai sebuah merek. Prosesnya amat panjang, membutuhkan waktu berbulan-bulan. Hingga pada awal Maret tahun ini saya mendapatkan kabar bahagia. Sertifikatnya telah terbit. 

Buah tangan kreasi dari Em kini sudah resmi terdaftar dalam pusat data kekayaan intelektual. Apa yang akan saya lakukan setelah dodonulis terdaftar sebagai sebuah merek? Saya juga penasaran untuk menantikan jawabannya. Niat saya sederhana, setelah ini saya ingin terus menulis, terus berlatih. 

Saya ingin menghargai dan bertanggung jawab atas kepercayaan dan orang yang mendukung penuh proses demi proses yang saya jalani. Teruntuk Em dan Putri Kami.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

bukit-barisan-sang-ksatria-penjaga
Kalian perhatikan pemandangan perbukitan yang menjadi latar paling belakang di foto ini. Ini adalah Bukit Barisan. Foto yang saya ambil dari kampung halaman saya di Sumatra Selatan. Bukit Barisan jajaran pegunungan yang membentang hingga 1.650 kilometer dari Provinsi Lampung di bagian paling selatan Pulau Sumatra hingga Provinsi Aceh di bagian paling utara.

Bukit Barisan adalah ksatria penjaga Pulau Sumatra, rumah bagi makhluk hidup yang berbagi ruang, membentuk sebuah harmoni kehidupan, saling bergantung satu sama lain. Namun semakin hari Ksatria Penjaga kian kritis, ironinya adalah pelakunya adalah manusia itu sendiri, yang telah dilindungi selama bertahun-tahun oleh Sang Ksatria Penjaga.

Bencana alam memang atas takdir dari Tuhan, cuaca ekstrem tak bisa dikendalikan bahkan oleh alat canggih sekalipun. Namun kita lupa, bahwa ada peran manusia dalam bencana ini. Andai pohon-pohon itu tidak dibabat, dampak bencana mungkin tidak akan separah ini, melumpuhkan beberapa daerah, kota menjadi gelap gulita dan sunyi. 

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab atas rentetan peristiwa bencana alam yang terjadi? Semoga sistem hukum dan pemerintahan kita masih bisa berpikir jernih, tidak takut dengan kuasa korporat besar, menghukum seadil-adilnya. Saat ini yang menjadi prioritas adalah masyarakat yang terdampak bencana, untuk pejabat yang mempunyai wewenang dan kuasa, semoga masih ada simpati dan empati.

Melihat bagaimana gerakan rakyat bantu rakyat yang begitu menggema, membuat saya takjub dan bangga dengan semangat gotong royong yang masih kental. Saling membantu dalam semua bentuk, menguatkan dalam bagai rupa. Ada yang terjun langsung ke lokasi yang terdampak, ikut berdonasi, mengirim bantuan, membuat tulisan, melakukan amplifikasi konten dukungan dan menguatkan sesama saudara. Semua itu dilakukan tanpa merendahkan peran orang lain, memahami semua orang berhak peduli dalam bentuk apapun. Bukan untuk kompetisi gagah-gagahan dan paling-palingan.

Tulisan ini tidak mengandung tendensi serius tentang tambang dan perkebunan kelapa sawit. Saya tidak anti dua-duanya, tidak bisa dipungkiri manusia masih membutuhkan energi fosil, listrik yang menerangi rumah-rumah berasal dari tambang, peralatan teknologi, dan lain sebagainya. Perkebunan kelapa sawit juga sama, petani-petani sederhana menggantungkan hidupnya dari perkebunan kelapa sawit, untuk menghidupi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya.

Pada akhirnya dunia dan seisinya akan runtuh, janji Tuhan berkata demikian, namun manusia punya tanggung jawab untuk menjaganya, mengedapankan keberlanjutan. Karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh generasi sekarang, anak cucu kita yang tidak bersalah atas peristiwa hari ini akan mendapatkan imbasnya. 

Bencana banjir besar di Sumatra seharusnya menjadi pengingat, bagaimana pentingnya hutan dan perlindungan hutan lindung dan hutan konservasi di sekitar kita. Jangan memaksakan perizinan alih fungsi hanya untuk kepentingan sepihak semata. Ancaman bencana serupa bisa saja terjadi di sekitar kita, di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Papua, dan pulau-pulau lainnya. Oleh karena itu, jaga hutan kita.

Catatan :

Tulisan ini saya selesaikan dalam perjalanan pulang ke kampung halaman Sumatra. Beberapa waktu yang lalu, sesorang sahabat lama yang berkunjung ke Bangka bertanya, "masihkah aktif menulis?". Jawaban saya masih. Meski blog ini sudah tidak mengeluarkan artikel terbaru, saya masih sering menulis. Namun tidak selalu tulisan saya share di blog ini. 

Jika kalian mengikuti blog ini sejak lama, blog ini dikhususkan untuk mengutas tulisan mengenai sebuah tempat atau bertema traveling. Taksiran kasar saya mengatakan 90% jumlah tulisan ini tentang keindahan alam di negeri ini.  

Belakangan ini beberapa artikel saya endapkan, tidak jadi saya posting. Karena perasaan saya gundah melihat situasi bencana Sumatera, tanah kelahiran saya, tempat saya pulang dan berteduh selama puluhan tahun. Lekas pulih Sumatra Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan daerah lainnya. 


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
pengalaman-menerbitkan-buku-di-penerbit-indie

Pada tahun 2023, saya memberanikan diri untuk menerbitkan buku berjudul Menulis Cerita Perjalanan. Buku tersebut tidak diterbitkan melalui penerbit mayor, seperti grup Gramedia ataupun Bentang Pustaka yang sudah familiar. Untuk buku pertama tersebut, saya memilih penerbit Indie atau skala UMKM yang masih berkembang. 

Pengalaman tersebut membuka mata saya lebih lebar dan jauh tentang dunia penerbitan buku. Cukup lama saya mencari referensi penerbit indie yang dapat dipercaya dan mempunyai rekam jejak yang baik. Karena salah satu risiko menerbitkan buku melalui penerbit indie adalah jika mendapatkan penerbit yang curang dan culas, tidak memberikan hak yang sepatutnya dimiliki oleh penulis.

Buku Menulis Cerita Perjalanan tersebut saya percayakan untuk diterbitkan oleh penebit CV Jejak yang beralamat di Sukabumi, Jawa Barat. Meski jarak Jakarta dan Sukabumi cukup dekat, saya tidak pernah berkunjung langsung ke alamat penerbit. Pertukaran informasi dan saling berbalas pesan dengan tim penerbit semuanya melalui email dan whatsapp. 

Cara mudah membedakan penerbit mayor dan penerbit indie adalah dari sisi biaya penerbitan buku. Jika hendak menerbitkan buku melalui penerbit mayor, tidak ada biaya yang dikeluarkan oleh penulis untuk mencetak dan menerbitkan buku tersebut, semuanya ditanggung oleh penerbit termasuk biaya promosi. Namun biasanya seleksinya ketat dan panjang, bisa berbulan-bulan hingga menyentuh tahun. 

Sementara jika menggunakan penerbit indie, kita akan membayar sejumlah uang untuk menerbitkan buku. Biayanya tergantung kesepakatan dengan penerbit yang bersangkutan. Contohnya CV Jejak mempunyai berbagai paket penerbitan yang dapat kalian cek melalui halaman resminya. Saya tidak akan membocorkan paket penerbitan yang saya pilih. Jika hendak memilih sebuah penerbit indie saya sarankan baca baik-baik paket yang hendak disepakati. 

paket-penerbitan-jejak-publisher

Melalui laman resmi-nya, CV Jejak berdiri pada tahun 2016 dan mulai menerbitkan naskah-naskah yang dikirimkan oleh penulis yang baru merintis seperti saya. Sesuai dengan visi mereka yaitu memajukan dunia literasi dan meningkatkan minat membaca dan menulis serta bertekad membantu penulis-penulis baru yang mampu berkompetensi, berkualitas dan membantu mereka mencapai cita-citanya sebagai penulis profesional. 

Salah satu bagian paling penting dalam memilih penerbit buku adalah pastikan penerbit tersebut termasuk ke dalam anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Hal tersebut merupakan fundamental dasar dalam memilih penerbit. Pastikan penerbit berkomitmen membantu pengurusan ISBN, semacam nomor identitas buku yang diakui secara internasional. 

Mengapa pilihan menerbitkan buku pertama saya jatuh ke Penerbit Jejak? Karena sistem website mereka transparan. Setidaknya mereka mempunyai tiga website resmi. Pertama jejakpublisher.com yang berisikan profil penerbit, kalian dapat berkenalan dan mencari informasi yang lengkap tentang penerbit ini melalui website tersebut, termasuk memahami berbagai paket penerbitan yang ditawarkan.

menerbitkan-buku-di-penerbit-jejak

Website kedua yaitu www.penerbitjejak.com , website ini secara khusus dibuat untuk penulis yang sudah memantapkan hatinya untuk menerbitkan buku di Penerbit CV Jejak. Setelah membuat akun, kita dapat mengirimkan naskah dan membuat perjanjian penerbitan melalui website tersebut. Kita juga dapat memantau sudah sejauh mana naskah kita diproses oleh mereka. 

royalti-dari-penerbit-jejak

Selanjutnya adalah website penulisjejak.web.id , merupakan website khusus untuk memantau besaran royalti yang kita terima, termasuk sudah berapa banyak buku kita yang terjual. 

Dalam proses penerbitan, kita juga dapat bertanya langsung melalui whatsapp maupun email jika mengalami kesulitan atau ada hal yang hendak ditanyakan. Jangan ragu untuk bertanya, pastikan kita sudah paham dan tidak ada pertanyaan yang mengambang. Pengalaman selama proses penerbitan, saya pribadi merasa respon penerbit cepat dan baik. 

menerbitkan-buku-di-penerbit-jejak

Tangkapan layar di atas ketika buku saya dalam proses antrian untuk diterbitkan. Meski penerbit indie, kita juga harus sabar selama buku kita diproses, karena ada banyak naskah yang mereka terbitkan secara bersamaan. Pengalaman saya waktu itu, lama proses penerbitan sejak kirim naskah hingga buku diterbitkan memakan waktu tiga bulan. Nah sampai sini kalian bisa menebak saya memilih paket penerbitan yang mana, hehe.

Penerbit CV Jejak juga memberikan waktu kepada penulis untuk memeriksa kembali secara keseluruhan mengenai layout dan isi buku sebelum 'naik cetak'. Setelah semua proses penerbitan selesai, buku tersebut dikirimkan ke alamat saya, jumlahnya sesuai dengan kesepakatan paket di awal. 

Kita juga bisa meminta dikirimkan buku lebih banyak dari jumlah yang tertera di paket penerbitan, tentunya harus membayar biaya cetaknya. Saya waktu itu meminta dikirimkan lebih banyak karena sudah ada teman yang memesan langsung melalui saya. 

Dari sisi penjualan dan pemasaran, Penerbit CV Jejak mempunyai laman khusus yaitu tokobukujejak.com untuk menjual buku-buku yang mereka terbitkan. Selain itu mereka juga menjualnya melalui shopee dan tokopedia. Penerbit CV Jejak juga menjual buku versi digital di google playbook.  

Nah jika menerbitkan buku melalui penerbit indie, kita harus proaktif mempromosikan buku tersebut secara mandiri. Karena skala promosi penerbit indie tidak terlalu besar dan tidak dijual di toko buku besar. 

Pada bulan Juni 2024, buku saya dapat dibaca melalui aplikasi resmi Perpustakaan Nasional yaitu Ipusnas.  Teman-teman dapat membacanya secara gratis pada aplikasi tersebut. Selain itu buku tersebut dapat dipinjam di Perpustakaan Kota Pangkal Pinang dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Disclaimer : tulisan ini murni pengalaman pribadi saya, mungkin setiap penulis yang menerbitkan naskah di Penerbit CV Jejak mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, jadi saya harap pembaca tidak menggeneralisasi proses yang saya bagikan pada tulisan ini.

"Jangan biarkan perjalananmu menguap begitu saja tidak ada bekasnya" Dodonulis, Menulis Cerita Perjalanan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
rumah-raden-saleh-di-cikini

Raden Saleh terkenal dengan karya seni lukis yang sangat memukau. Sang Maestro seni lukis ini hidup jauh sebelum negeri kita merdeka, lahir pada tahun 1811 dan meninggal pada tahun 1880. Raden Saleh hidup di dunia selama 69 tahun, namun karyanya tetap abadi ratusan tahun setelahnya, tak lekang oleh waktu, menginspirasi generasi muda untuk berkarya. Salah satu lukisannya yang paling banyak diperbincangkan adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro. 

Selain karya seni lukis, peninggalan Raden Saleh yang terkenal yaitu sebuah rumah yang terletak di kawasan Cikini. Semasa delapan tahun di Jakarta, hampir setiap minggu saya pergi ke Cikini namun belum pernah berkunjung ke rumah tersebut. Oleh karena itu, sebelum meninggalkan Jakarta tahun lalu, saya meniatkan datang langsung berkunjung, agar tidak pergi dengan rasa penasaran. 

Salah satu moda transportasi favorit jika hendak pergi ke Rumah Raden Saleh yaitu dengan menggunakan KRL, stasiun terdekatnya adalah Stasiun Cikini. Saya tidak merekomendasikan jika kalian hendak menggunakan kendaraan pribadi karena lokasi rumahnya terletak di dalam kawasan kompleks Rumah Sakit PGI Cikini. 

Dari stasiun, saya jalan kaki hanya sekitar satu kilometer, menurut saya itu jarak yang cukup dekat. Percayalah, jalan kaki di kawasan Cikini itu menyenangkan, lingkungannya sejuk, trotoarnya lebar, dan banyak spot kuliner yang menarik. Cocok bagi kalian yang mempunyai target 1.000 hingga 5.000 langkah sehari. 

bubur-cikini

Nah saran saya, berangkatlah pada pagi hari. Sarapan dulu dengan bubur Cikini yang terletak di seberang stasiun, ambil tempat duduk di lantai dua, spot yang menurut saya menarik, kita bisa menyaksikan kesibukan kawasan Cikini di pagi hari, terkadang ide-ide itu muncul secara acak. 

rumah-sakit-pgi-cikini-rumah-raden-saleh

Setelah tiba di Rumah Sakit PGI Cikini, saya celingukan mencari posisi pintu masuk, sempat bingung dan ragu di mana pintu masuk Rumah Raden Saleh-nya, atau jangan-jangan saya salah lokasi. Untunglah ada Pak Satpam yang menjelaskan dengan ramah. Lokasi rumahnya terletak di dalam kawasan rumah sakit tersebut. Di sana, berdiri indah sebuah rumah dengan arsitektur yang khas.

rumah-raden-saleh

Waktu itu saya sempat berbincang dengan satpam yang sedang berjaga. Kini rumah Raden Saleh tidak dibuka untuk publik, jadi pengunjung tidak bisa masuk ke dalam rumah karena alasan keamanan. Meski tidak bisa masuk, bagi saya melihat dari luar saja sudah cukup untuk mengagumi keunikan rumah ini, kawasan di sekitarnya juga sejuk dengan banyak pohon-pohon besar. 

chapel-gereja-kecil-dekat-rumah-raden-saleh

Terdapat sebuah chapel yang berada di dekat rumah tersebut. Gereja kecil yang indah dengan nuansa putih.Gereja kecil ini masih digunakan hingga sekarang. Karena berada di kawasan rumah sakit, di sana saya melihat bangsal-bangsal rumah sakit yang masih berarsitektur kuno khas zaman dahulu.  

bangsal-rumah-sakit-pgi-cikini

Karena datang sendirian, saya tidak terlalu banyak berkeliling. Setelah memotret beberapa foto, saya memutuskan untuk keluar dan beranjak menuju Taman Ismail Marzuki (TIM). Di sana terdapat sebuah lukisan wajah seorang Raden Saleh, terletak di antara belakang planetarium dan Gedung Bhakti Budaya. Jika datang ke Jakarta, Cobalah sesekali mampir ke sana, kawasan TIM sejak dulu hingga sekarang selalu hidup dengan aktivitas anak-anak muda. 

lukisan-raden-saleh-di-tim

bakmi-roxy-cikini

Nah setelah setengah hari berkeliling kawasan Cikini, banyak spot favorit jika hendak mengisi kembali energi yang sudah kosong karena kelelahan. Ada dua spot makan yang paling sering saya datangi, pertama yaitu RM Ampera 2 Tak Cikini, lalu yang kedua Bakmi Roxy. Kedua tempat makan tersebut harganya terjangkau dengan rasa yang enak. Biasanya sih kalau sudah makan malas banget untuk gerak. Oleh karena itu, ketika pulang saya sering naik angkot Jak-10A menuju stasiun Cikini dengan biaya 0 rupiah. 

Artikel ini sudah lama mengendap di draft, juga dengan artikel-artikel lain yang belum saya edit dan tulis. Senang rasanya masih konsisten menulis di blog ini selama bertahun-tahun. Salam takzim, dodonulis yang masih terus belajar menulis.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Buku Menulis Cerita Perjalanan

Buku Menulis Cerita Perjalanan
Pada tahun 2023, buku pertama saya berjudul Menulis Cerita Perjalanan resmi diterbitkan oleh Penerbit Jejak. Melalui buku ini saya menceritakan perjalanan selama berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Saya ingin perjalanan-perjalanan tersebut, tidak menguap begitu saja tidak ada bekas dan jejaknya. Jika para pembaca tertarik membacanya dapat klik gambar buku atau melalui link berikut : Shopee : https://id.shp.ee/hXGJwGT dan Toko Buku Jejak : https://tokobukujejak.com/detail/menulis-cerita-perjalanan-FCONM.html

Popular Posts

  • Kolam Renang Bojana Tirta, Murah dan Nyaman
  • Sleeper Bus Palembang Jakarta, Memangnya Ada?
  • Perjalanan ke Banda Neira Dengan Pesawat Sam Air
  • Road Trip Jakarta ke Palembang dengan Bus Epa Star
  • Stadion Taman Sari Mangga Besar Jakarta, Jejak Sepakbola di Ibu Kota

Tentang Penulis

Halo para pembaca, penulis adalah seorang pemuda kelahiran tahun ’97. isi blog ini seputar cerita dan catatan penulis ketika berkunjung di beberapa provinsi di Indonesia, tujuan membuat blog ini supaya dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama yang mempunyai hobi traveling. penulis dapat dihubungi dengan berkirim email ke dodonulis1@gmail.com

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

Mencoba Bertahan - G.A.V.K - Song - 2022

recent posts

    Pages

    • Privacy Policy
    • About Me
    • Disclaimer
    • Contact

    BloggerHub

    BloggerHub Indonesia

    Created with by ThemeXpose