Begitu banyak spot yang menakjubkan di Sumba. Tetapi dari serangkaian momen perjalanan overland Sumba bersama Em, menurut saya motoran menuju Puru Kambera adalah momen yang paling mengesankan. Tempat ini memang tidak ada di daftar itinerary paket open trip yang kami pesan, jadi kami berdua berinisiatif datang ke sini secara mandiri. Mumpung masih ada waktu satu hari sebelum penerbangan pulang ke daerah asal.
Puru Kambera adalah nama sebuah savana dan pantai yang terletak sekitar 25 kilometer dari Kota Waingapu, Sumba Timur. Kami menginap di Hotel Elim Waingapu, lokasinya sangat dekat sekali dengan pintu keberangkatan Bandara Umbu Mehang Kunda. Bagi backpacker yang mencari penginapan dekat dengan bandara, mungkin hotel Elim bisa menjadi opsi, mengingat penerbangan menuju Denpasar itu pada pukul enam pagi.
Hotel Elim juga menyediakan jasa sewa motor, jadi lumayan kalau kami mau keliling sebentar di Waingapu seperti mengunjungi Bukit Tenau dan Bukit Persaudaraan. Nah terbesit niat untuk mengajak Em ke Puru Kambera, karena tempat ini begitu menarik perhatian saya sejak perjalanan pertama di Sumba tahun 2018 yang lalu.
Awalnya Em ragu menerima ajakan saya ke tempat ini, alasan utamanya adalah karena cuaca di Sumba pada akhir tahun kadang tidak menentu. Cukup riskan kalau naik motor ke sana, karena di sekitaran Puru Kambera masih alami dengan padang rumput yang luas, jarang ditemui rumah atau warung untuk tempat berteduh ketika hujan.
"Baiklah kita tunggu hingga jam 12, kalau cuaca hujan deras kita tidak jadi berangkat" kata saya. Syukurlah semestakung, tanggal 29 Desember langit saat itu sedang cerah, kami mampir dulu ke rumah makan di Jl. Umbu Tipuk Marisi yang sudah terkenal di kalangan pelancong. Cobalah mampir ke sana jika sedang traveling ke Sumba Timur.
Setelah makan siang, perjalanan kembali dilanjutkan. Saya yang menyetir dan Em yang mengarahkan dengan bantuan google maps. Sebelum berangkat pastikan dulu kondisi bahan bakar terisi penuh, namanya di pulau pasti sulit menemukan SPBU. Jangan lupa juga meminta pihak hotel menyediakan mantel atau jas hujan, kalau tidak ada saya sarankan beli dulu di minimarket.
Jarak ke Savana Puru Kambera memang tidak terlalu jauh, hanya 25 km. Tetapi kami menempuhnya selama satu jam. Karena ada beberapa momen yang membuat motor kami berjalan pelan. Tak terasa letih sama sekali berpetualang ke Puru Kambera, Sungguh pemandangan sepanjang jalan ke sana sangat memukau. Kami melewati perkampungan di tepi pantai, pepohonan bakau, serta beberapa kali melihat bangunan khas daerah Sumba.
Hal yang unik di Sumba serta jarang ditemui di daerah lain di Indonesia adalah tanda rambu lalu lintas bergambar sejenis sapi/kerbau. Tanda yang terpajang di pinggir jalan ini mengingatkan pengendara untuk berhati-hati karena banyak hewan ternak yang melintas. Benar saja, kami beberapa kali harus memelankan sepeda motor karena ada kawanan kambing, sapi, bahkan kuda yang menyeberangi jalan raya.
Momen tersebut berhasil kami rekam sambil membaca doa supaya kawanan kuda itu tidak bergerak ke arah kami. Meski kuda ini merupakan kuda ternak, tetapi mereka dilepas di alam terbuka, merumput di padang savana yang luas. Saya juga mendengar pernah ada kejadian pengendara motor yang ditabrak kuda di Sumba Timur. Jadi saya sarankan untuk berhati-hati motoran ke Puru Kambera, lebih baik pelan dan biarkan dulu kuda-kuda itu melintas.
Sekitar pukul 14.30, kami sudah tiba di tengah hamparan padang rumput yang luas nan indah. Sungguh, pemandangannya masih asri seperti enam tahun yang lalu ketika saya ke sini. Gerombolan kuda yang terlihat sedang merumput di alam bebas tanpa ada untaian tali yang mengikat, pemandangan ini yang merupakan ciri khas Puru Kambera. Oleh karena itu saya sangat ngotot menagajak Em ke sini, karena sangat disayangkan sudah jauh-jauh ke Sumba tapi tidak mampir ke padang savana terindah di Sumba (menurut saya pribadi).
Sebetulnya ada satu tempat lagi yang ingin saya kunjungi, yaitu air terjun Tanggedu yang lokasinya searah dengan Puru Kambera. Jaraknya mungkin sekitar 10 kilometer lagi. Tetapi waktu itu aliran airnya sedang banjir besar. Sangat tidak memungkinkan untuk treking ke sana. Tetapi tak mengapa, yang penting Em sudah mampir ke Puru Kambera.
Saat itu suasana sangat sepi, kami hanya bertemu rombongan road trip dengan mobil di perjalanan. Sebenarnya saya ingin berlama-lama di Puru Kambera, tetapi cuaca berubah lebih cepat. Awan kelabu membumbung di langit. Kami harus bergegas kembali ke Kota Waingapu.
Belum sampai di kota, hujan sudah turun dengan deras. Beruntung kami sudah tiba di salah satu desa jadi bisa berteduh sebentar di sebuah warung, bisa dibayangkan kalau kami masih berada di padang savana, pasti sudah basah kuyup. Syukurlah perjalanan ke Puru Kambera berjalan aman. Berikut beberapa tips motoran ke Puru Kambera :
1. Harga sewa motor selama satu hari sebesar 150 ribu, tetapi kita bisa nego karena hanya menyewa setengah hari. Waktu itu kami membayar 100 ribu saja.
2. Namanya sewa motor kondisinya pasti tidak begitu prima, tetapi kita harus pastikan hal-hal penting seperti rem, kondisi ban, dan jangan lupa menanyakan jas hujan.
3. Pastikan kondisi bahan bakar terisi penuh, kalau bisa isi dulu di SPBU tengah kota Waingapu karena sulit menemukan SPBU di Puru Kambera
4. Kalau ketemu kawanan kuda liar yang sedang melintas di jalan, lebih baik hati-hati dan menunggu hingga kuda tersebut pergi dari jalan. Jangan sampai kudanya agresif karena merasa terganggu dengan sepeda motor kita.
5. Kembalilah ke kota sebelum langit gelap karena pencahayaan atau lampu jalan di Puru Kambera minim.
Kami tiba di tengah kota Waingapu sekitar pukul lima sore. Em melihat sebuah coffee shop dan resto bernama Soemba di Waingapu. Tempat nongkrong kekinian di Sumba Timur, dari fasad luar dan kondisi bangunannya sepertinya baru dibuka beberapa bulan. Kami memutuskan untuk mampir, sekalian membeli makan malam di sana.
Oh ya, meski jaraknya sangat dekat dengan bandara, pihak hotel Elim juga menyediakan fasilitas antar jemput bandara ya. Mereka juga menyediakan sarapan. Tetapi untuk makan siang dan malam kita memang harus keluar hotel karena menu mereka terbatas.
Saya rasa yang paling membuat kecewa selama perjalanan di Waingapu adalah jadwal penerbangan yang terbatas. Hanya ada pukul enam pagi saja dengan maskapai wings air. Dulu masih ada Nam Air yang aktif mengudara dari bandara Waingapu. Sudah tiketnya mahal, penerbangan juga terbatas. Tetapi entahlah, mungkin ada sisi positifnya juga, keasrian Sumba dengan vegetasi savana dan perbukitannya tetap terjaga dan lestari.